AIR_bandung2015_01 AIR_bandung2015_02.1 AIR_bandung2015_02.2

BAREHAND S
ASIAN ARTISTS RESIDENCY PROJECT

 

Pameran dengan tajuk di muka merupakan koleksi karya hasil sejumlah perupa dari Malaysia, Filipina, Jepang, Jordania, dan Indonesia, yang dikerjakan dalam waktu 8 hari, mulai 8 hingga 15 November 2015. Dari Malaysia: Juhari Said, Awang Damit Ahmad, Bibi Chew, Sharmiza Abu Hassan; dari Filipina: Ambie Abano; dari Jepang: Mamoru Abe, dan dari Jordania: Anees Maani. Sedangkan dari Indonesia diwakili Setiawan Sabana, Tisna Sanjaya, Dadang Sudrajat, Willy Himawan, Rudy Harjanto, Izmet Zaenal Effendi, Radi Arwinda, Patra Aditia, Budi Adi Nugroho, Komar Kudiya, Zusfa Roihan, dan Bunga Yuridespita. Tuan rumah diberi kesempatan untuk menambah lebih pesertanya. Masing-masing memamerkan satu karya. Bebas tanpa terikat tema atau media tertentu, semuanya diserahkan pada kebiasaan yang telah dikerjakan selama ini oleh seniman bersangkutan.

Yang terjadi adalah mereka sejak datang, nyaris melupakan kebiasaan berkarya sebelumnya. Mereka cenderung ingin mengeksplorasi kelokalan Bandung. Maka karya-karya—seperti tampak dalam pameran ini memperlihatkan respons tematik, media, dan estetik yang unik. Mereka memilih benda seperti kelom kayu, bambu, bebuahan lokal, beras, kertas, dan sebagainya yang mudah diperoleh di pasar tradisional di Bandung. Karya-karya mereka memperlihatkan bagaimana sudut pandang seni dan budaya bawaan dipadukan dengan kebaruan dari lokalitas Bandung.

Projek dengan tajuk di muka, rencananya akan dilanjutkan di Fukuoka Jepang bulan Juni 2016. Setelah itu akan diteruskan di Kuala Lumpur Malaysia pada 2017. Kegiatan seperti ini menjadi ajang silaturahim seniman-seniman Asia dalam bentuk suatu residensi yang secara finansial diupayakan tidak membebani banyak pihak seniman sendiri.

Projek Ini menjadi cara tersendiri untuk menj adikan seni sebagai media berbagi pengalaman dan pengetahuan serta kemanusiaan. Lewat seni kehidupan mengalir tanpa beban isu politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya secara ekstrem, tetapi mengusung dimensi kemanusiaan yang sejati yang ada dalam setiap insan ilahi.

 

Bandung 15 November 2015
Setiawan Sabana